Loading...

Selasa, 09 November 2010

pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit

A. Sistem Tubuh Yang Berperan Dalam Kebutuhan Cairan dan Elektrolit

1. Ginjal
Ginjal memiliki peranan yang besar bagi tubuh karena berfungsi sebagai pengatur air, pengatur konsentrasi garam dalam darah, pengatur keseimbangan asam basa dalam darah, dan pengaturan ekskresi bahan buangan atau kelebihan garam. Ginjal memiliki kemampuan tersebut karena memiliki glomerulus sebagai penyaring cairan. Cairan yang tersaring (filtrat glomerulus) kemudian mengalir melalui tubuli renalis yang sel-selny menyerap semua bahan yang di butuhkan. Jumlah urin yang di produksi ginjal, dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron rata-rata 1 ml/kg/bb/jam.

2. Kulit
Merupakan bagian penting dalam pengaturan cairan yang terkait dengan proses pengaturan panas. Proses pengaturan panas disarafi

3. Paru-paru
Organ paru-paru berperan dalam pengeluaran cairan dengan menghasilkan insensible water loss kurang lebih 400 ml per hari. Pengeluaran tersebut di pengaruhi perubahan frekuensi dan kedalaman pernapasan.contohnya saat melakukan olahraga berat.

4. Gastrointestinal
Merupakan saluran pencernaan yang berperan dalam mengeluarkan cairan melalui proses penyerapan dan pengeluaran air. Saat kondisi normal, cairan yang hilang dalam system ini sekitar 100-200 ml per hari.

B. Kebutuhan Cairan Tubuh Bagi Manusia

Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis yang memiliki proporsi hampir 90% dari total berat badan. Secara keseluruhan persentase cairan tubuh berdasarkan usia berbeda. Bayi baru lahir sekitar 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan, dewasa tua 45% dari total berat badan. Selain itu kebutuhan cairan dalam tubuh di pengaruhi oleh banyaknya lemak dalam tubuh. Semakin banyak lemak yang terkandung dalam tubuh semakin sedikit cairan yang diperlukan.
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu :
cairan intraseluler dan
cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.
Proportion Of Body Fluid
Prosentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan
tergantung beberapa hal antara lain :
a.Umur
b.Kondisi lemak tubuh
c.Sex


KEBUTUHAN AIR YANG BERDASARKAN USIA DAN BERAT BADAN
USIA KEBUTUHAN AIR

JUMLAH AIR DALAM 24 JAM ml/kg BERAT BADAN

3 hari 250-300 80-100
1 tahun 1150-1300 120-135
2 tahun
4 tahun
10 tahun
14 tahun
18 tahun
Dewasa 1350-1500 115-135
1600-1800 100-110
2000-2700 70-85
2200-2700 50-60
2200-2700 40-50
2400-2600 20-30



C. Cara Perpindahan Cairan

Difusi dan osmosis adalah mekanisme transportasi pasif. Hampir semua zat
berpindah dengan mekanisme transportasi pasif.
Difusi sederhana adalah perpindahan partikel-partikel dalam segala arah melalui larutan atau gas.
Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya difusi zat terlarut
menembus membran kapiler dan sel yaitu :
• Permebelitas membran kapiler dan sel
• Konsenterasi
• Potensial listrik
• Perbedaan tekanan.


Osmosis adalah proses difusi dari air yang disebabkan oleh perbedaan
konsentrasi. Difusi air terjadi pada daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang
rendah ke daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang tinggi.
Perpindahan zat terlarut melalui sebuah membrane sel yang melawan perbedaan konsentrasi dan atau muatan listrik disebut transportasi aktif. Transportasi aktif
berbeda dengan transportasi pasif karena memerlukan energi dalam bentuk
adenosin trifosfat (ATP). Salah satu contonya adalah transportasi pompa kalium
dan natrium.


Faktor yang Berpengaruh dalam Pengaturan cairan

Proses pengaturan cairan di pengaruhi oleh dua faktor yakni tekanan cairan dan membrane semipermiabel.
1.Tekanan cairan .
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan.
Tekanan osmotik merupakan kemampuan partikel pelarut untuk menarik larutan melalui membran. Bila terdapat dua larutan dengan perbedaan konsentrasi molekulnya lebih pekat dan tidak dapat bergabung di sebut koloid. Sedangkan larutan dengan kepekatan yang sama dan dapat bergabung, maka larutan itu disebut kristaloid. Prinsip tekanan osmotic ini sangat penting dalam proses pemberian cairan intravena. Biasanya larutan yang sering digunakan dalam pemberian infuse inravena bersifat isotonic karena mempunyai konsentrasi yang sama dengan plasma darah. Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan elektrolit ke dalam intrasel. Larutan intravena yang hipotonik yaitu larutan yang mempunyai konsentrasi kurang pekat dibanding dengan konsentrasi plasma darah. Tekanan hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang tertutup. Hal ini penting untuk pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.


2. Membrane semipermiabel.
merupakan penyaringan agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung. Membrane semipermiabel ini terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat diseluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.
Jenis Cairan
Caira
1. n zat gizi atau (nutrient)
Pasien yang istirahat di tempat tidur memerlukan kalori 450 kalori setiap hari. Cairan nutrient dapat melalui intravena dalam bentuk karbohidrat, nitrogen dan vitamin untuk metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrient dapat berkisar antara 200-1500 kalori per liter. Cairan nutrient terdiri atas :
a. karbohidrat dan air, contoh: glukosa, fruktusa, serta invert sugar.
b. Asam amino, contoh: amigen, aminosol dan travamin.
c. Lemak, contoh: lipomun dan liposyn
2. Blood volume expanders
Blood volume expanders merupakan jenis cairan yang berfungsi meningkatkan volume darah sesudah kehilangan darah atau plasma. Pada pasien dengan luka bakar yang berat sebagan besar cairan akan hilang dari pembuluh darah didaerah luka. Jenis blood volume expanders antara lain: human serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini mempunyai tekanan osmotic, sehingga secara langsung dapat meningkatkan jumlah volume darah.

Gangguan dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan:

1. hipovolume atau dehidrasi
Gangguan tersebut karena penurunan asupan cairan dan kelebihan pemenuhan cairan. Biasanya di alami oleh pasien diare dan muntah. Tiga macam dehidrasi, yaitu:
a. Dehidrasi isotonik, yaitu kehilangan sejumlah air atau cairan dan elektrolitnya yang seimbang.
b. Dehidrasi hipertonik, yaitu kehilangan sejumlah air yang lebih banyak daripada elektrolitnya.
c. Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyak kehilangan elektrolit daripada air atau cairan.
2 .Hipervolume/over hidrasi
Terdapat dua manifestasi yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan:
1. Hipervolume (peningkatan volume darah)
2. Edema(kelebihan cairan pada interstisial)
Normal cairan interstisial tidak terikat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat diantara jaringan. Keadaan hipervolume dapat menyebabkan pitting edema, merupakan edema yang berada pada darah verifer, atau akan mencekung setelah ditekan pada daerah yang bengkak. Nonpitting edema tidak menunjukkan tanda kelebihan cairan ekstrasel, tetapi sering karena infeksi dan trauma yang menyebabkan pengumpulan membekunya cairan pada permukaan jaringan. Kelebihan cairan vaskular dapat meningkatkan hidrostatik cairan dan akan menekan cairan kepermukaan interstisial sehingga menyebabkan edema anasarka(edema yang terdapat di seluruh tubuh).
Peningkatan tekanan hidrostatik yang besar dapat menekan sejumlah cairan hingga kemembran kapiler paru-paru dan dapat meningkatkan kematiaan. Keadaan edema ini di sebabkan oleh gagal jantung yng mengakibatkan peningkatan penekanan pada kapiler darah paru-paru dan perpindahan cairan ke jaringan paru-paru.

Kebutuhan Elektrolit

Elektrolit merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).

o Kation
Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan
kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu
sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium
dan potassium ini.
Kation terdiri dari :
• Natrium
• Kalium
• Kalsium
• Magnesium

.o Anion
Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan
bikarbonat (HCO3), sedangkan anion utama dalam cairan intraselular
adalah ion fosfat (PO4).
Anion terdiri dari :
• Klorida
• Bikarbonat
• Fosfat

Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan interstitial pada intinya
sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi dari cairan ekstraseluler
tetapi tidak mencerminkan komposisi cairan intraseluler.

a. Natrium
Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di
dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: 135-145mEq/liter.12 Kadar
natrium dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme:
- Left atrial stretch reseptor
- Central baroreseptor
- Renal afferent baroreseptor
- Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)
- Atrial natriuretic factor
- Sistem renin angiotensin
- Sekresi ADH
- Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water)
Ekskresi natrium dapat dilakukan oleh ginjal berupa urine, dan sebagaian kecil melalui tinja, keringat, air mata.

b. Kalium
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan
penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit.
Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter. Kalium berpengaruh pada fungsi pernapasan. Partikel penting dalam kalium berfungsi untuk menghantarkan impuls listrik ke jantung, otot lain, jaringan paru-paru, jaringan pencernaan.
dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi
kalium lewat urine, faeces,dan keringat

c. Kalsium
Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu.Zat ini memiliki kadar 4-5m Eq/L. Kalsium dikeluarkan lewat faeces, keringat dan urine. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake,
besarnya tulang, keadaan endokrin. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh
kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis, ovarium, dan hipofisis. Kalsium berfungsi dalam pembentukan tulang, penghantar impuls kontraksi otot, koagulasi darah(pembekuan darah), dan membantu beberapa enzim pankreas.

d. Magnesium
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kadar dari zat ini adalah 1,5-2,5 m Eq/L Magnesium merupakan kation dalam tubuh yang terpenting kedua dalam cairan intrasel. Keseimbangannya di tur oleh kelenjar paratiroid. Zat ini dipengaruhi oleh kalsium.
e. Chloride (Cl -) :
- Kadar berlebih di ruang ekstrasel
- Membantu proses keseimbangan natrium
- Komponen utama dari sekresi kelenjar gaster
- Sumber : garam dapur

f. Bikarbonat
Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil
akhir daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit sekali
bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan
sangat penting peranannya dalam keseimbangan asam basa. Kadar bikarbonat arteri adalah 22-26 m Eq/L, sedangkan kadar bikarbonat vena adalah 24-30 m Eq/L
g. Fosfat
- Kadarnya 2,5-4,5mg/100ml
- Bagian dari fosfat buffer system
- Berfungsi untuk menjadi energi pad metabolisme sel
- Bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang
- Masuk dalam struktur genetik yaitu : DNA dan RNA.
-pengeluaran melalui urine
Jenis Cairan Elektrolit
Cairan elektrolit adalah cairan saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan tetap, yang terdiri dari isotonok (normal), hopotonik, hipertonik.
Gangguan dalam pemenuhan kebutuhan elektrolit:
1. Hiponatrea
Keadaan dimana kadar natrium dalam plasma kurang dari standrtnya. Gejalanya adalah mual, muntah diare. Hal ini disebabkan oleh haus yang berlebihan, denyut nadi cepat, hipotensi, konvulsi, dan membran mukosa kering.
2. Hipernatremia
Keadaan dimana kadar nartium dalam plasma tinggi. Gejalanya antara lain mukosa kering, oliguria/anuria, turgor kulit buruk dan tekanan kulit membengkak. Hal ini di sebabkan oleh dehidrasi, diare, asupan air yang berlebih namun asupan garam sedikit.
3. Hipokalemia
Keadaan dimana kadar kalium dalam darah kurang. Terjadi pada pasien yang diare berkepanjanagan. Gejalanya antara lain denyut nadi lemah, turunya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perut kembung, lemah dan lunak otot, denyut jantung tidak beraturan (aritmia), penurunan bising usus, serta kadar kalium dalam plasma turun.
4. Hiperkalemi
Keadaan dimana kadar kalium dalam darah tinggi. Terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolik, pemberian kalium yang berlebih melalui intravena. Gejalanya antara lain mual, hiperaktivitas sistem pencernaan, aritma, kelemahan, jumlah urin sedikit sekali, diare, adanya kecemasan dan iritabilitas (peka rangsang),serta kalium dalam plasma lebih.
5. Hipokalsemia
Keadaan dimana kadar kalsium dalam palama darah rendah. Gejalanya antra lain kram otot dan parut, kejang, bingung,kesemutan pada jari dan sekitar mulut. Hal ini disebabkan pengaruh penggangkatan kelenjar gondok dan kehilangan sejumlah kalsium karena sekresi intestinal
6. Hiperkalsemia
Keadaan dimana kadar kalsium dalam plasma darah tinggi. Penyebabnya adalah karena pengankatan kelenjar gondok dan banyak makan vitamin D. Gejalanya antara lain nyeri tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-mual, koma.
7. Hipomagnesia
Keadaan dimana kadar magnesium dalam darah kurang. Gejalanya antara lain iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, takikardi, hipertensi, disorientasi, dan konvulsi,.
8. Hipermagnesia
Keadaan dimana kadar magnesium dalam darah tinggi. Gejalanya antara lain koma, gangguan pernafasan.




Keseimbangan Asam Basa

Aktivitas sel tubuh memerlukan keseimbangan asam basa, keseimbangan asam basa tersebut dapat di ukur dengan pH(derajat keasaman).Dalam keadaan normal, nilai pH cairan tubuh 7,35-7,45.
Keseimbangan asam basa dapat dipertahankan melalui proses metabolisme dengan sistem Buffer pada seluruh cairan tubuh dan melalui pernapasan dengan sistem regulasi(pengaturan di ginjal). Tiga macam sistem larutan Buffer cairan tubuh yaitu larutan Bikarbonat,larutan buffer fospat,dan larutan buffer protein. Sistem buffer ini sendiri terdiri dari natrium bikarbonat(NaHCO3),kalium bikarbonat(KHCO3),dan asam karbonat(H2CO3).
Pengaturan keseimbangan asam basa dilakukan oleh paru-paru hingga nilai pH menjadi standar(normal) melalui pengangkutan kelebihan CO2 dan kelebihan H2CO3 dari darah yang dapat meningkatkan pH. Kadar pH yang rendah, konsentrasi ion H+ yang tinggi disebut Asidosis. Sebaliknya pH yang tinggi, konsentrasi ion H+ rendah disebut Alkalosis.

• Jenis Asam Basa

Cairan basa (alkali) digunakan untuk mengoreksi asidosis. Keadaan asidosis dapat disebabkan karena henti jantung dan koma diabetikum. Contoh cairan alkali antara lain natrium (sodium laktat) dan natrium bikarbonat. Laktat merupakan garam dari asam lemah yang dapat mengambil ion H+ dari cairan, sehingga mengurangi keasaman (asidosis). Selain sistem pernapasan, ginjal juga berperan untuk mempertahankan keseimbangan asam basa yang sangat komplek. Ginjal mengeluarkan ion hidrogen dan membentuk ion bikarbonat sehingga Ph darh normal. Jika pH plasma turun dan menjadi lebih asam, ion hidrogen dikeluarkan dan bikarbonat dibentuk kembali.

• Gangguan / Masalah Keseimbangan Asam Basa

1) Asidosis Respiratorik
Asidosis respiratorik merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh karena kegagalan sistem pernapasan dalam membuang karbondioksida dari cairan tubuh dan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada pernapasan, peningkatan PCO2 artieri di atas 45 mmHg, dan penurunan pada Ph yakni kurang dari 7,35. Keadaan dapat disebabkan oleh adanya penyakit obstruksi, trauma kepala, perdarahan, dll.

2) Asidosis Metabolik
Asidosis metabolik merupakan suatu keadaan kehilangan basa atau terjadi penumpukan asam. Kadaan ini ditandai dengan adanya penurunan Ph kurang dari 7,35 dan HCO3 kurang dari 22 mEq/L.

3) Alkalosis Respiratorik
Alkalosis resoiratorik suatu keadaan kehilangan CO2 dari paru-paru yang dapat menimbulkan terjadinya paCO2 arteri kurang dari 35 mmHg, Ph labih dari 7,45. keadaan ini dapat disebabkan oleh karena adanya hiperpentilasi, kecemasan, emboli paru-paru,dll.

4) Alkalosis Metabolik
Alkalosis metabolik suatu keadaan kehilangan ion hidrogen atau penambahan basa pada cairan tubuh dengan adanya peningkatan bikarbonat plasma lebih dari 26 mEq/L dan Ph arteri lebih dari 7,45, atau secara umum keadaan asam basa dapat dilihat sebagaimana tabel berikut :

HCO3 Plasma pH Plasma PaCO2 Plasma Gangguan Asam Basa
Meningkat
Menurun
Menurun
Meningkat
Menurun
Menurun
Meningkat
Meningkat
Meningkat
Menurun
Menurun
Meningkat
Asidosis respiratorik
Asidosis metabolik
Alkalosis respiratorik
Alkalosis metabolik



Tindakan untuk Mengatasi Masalah atau Gangguan dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan dan Elektrolit:

1. Pemberian cairan melalui infus
Merupaka tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang di lakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini di lakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan.

A. PERSIAPAN
I. Persiapan Klien
- Cek perencanaan Keperawatan klien
- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan
II. Persiapan Alat
- Standar infus
- Ciran infus dan infus set sesuai kebutuhan
- Jarum / wings needle / abocath sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan
- Bidai / alas infus
- Perlak dan torniquet
- Plester dan gunting
- Bengkok
- Sarung tangan bersih
- Kassa seteril
- Kapas alkohol dalam tempatnya
- Bethadine dalam tempatnya

B. PELAKSANAAN
- Perawat cuci tangan
- Memberitahu tindakan yang akan dilakukan dan pasang sampiran
- Mengisis selang infus
• Membuka plastik infus set dengan benar
• Tetap melindungi ujung selang seteril
• Menggantungkan infus set dengan cairan infus dengan posisi cairan infus mengarah keatas
• Menggantung cairan infus di standar cairan infus
• Mengisi kompartemen infus set dengan cara menekan ( tapi jangan sampai terendam )
• Mengisi selang infus dengan cairan yang benar
• Menutup ujung selang dan tutup dengan mempertahankan keseterilan
• Cek adanya udara dalam selang
- Pakai sarung tangan bersih bila perlu
- Memilih posisi yang tepat untuk memasang infus
- Meletakan perlak dan pengalas dibawah bagian yang akan dipungsi
- Memilih vena yang tepat dan benar
- Memasang torniquet
- Desinfeksi vena dengan tekhnik yang benar dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke bawah sekali hapus
- Buka kateter ( abocath ) dan periksa apakah ada kerusakan
- Menusukan kateter / abocath pada vena yang telah dipilih dengan apa arah dari arah samping
- Memperhatikan adanya darah dalam kompartemen darah dalam kateter, bila ada maka mandrin sedikit demi sedikit ditarik keluar sambil kateter dimasukan perlahan-lahan
- Torniquet dicabut
- Menyambungkan dengan ujung selang yang telah terlebih dahulu dikeluarkan cairannya sedikit, dan sambil dibiarkan menetes sedikit
- Memberi plester pada ujung plastik kateter / abocath tapi tidak menyentuh area penusukan untuk fiksasi
- Membalut dengan kassa bethadine seteril dan menutupnya dengan kassa seteril kering
- Memberi plester dengan benar dan mempertahankan keamanan kateter / abocath agar tidak tercabut
- Mengatur tetasan infus sesuai dengan kebutuhan klien
- Alat-alat dibereskan dan perhatikan respon klien
- Perawat cuci tangan
- Catat tindakan yang dilakukan

C. EVALUASI
- Perhatikan kelancaran infus, dan perhatikian juga respon klien terhadap pemberian tindakan
Cara menghitung Tetesan infus

a. Dewasa: (makro dengan 20 tetes/ml)
TETESAN PERMENIT = JUMLAH CAIRAN YANG MASUK / LAMANYA INFUS (JAM) X 3
atau
TETESAN PERMENIT = KEBUTUHAN CAIRAN X FAKTOR TETESAN / LAMANYA INFUS (JAM) X 60 MENIT
Keterangan:
Faktor tetesan infus bermacam-macam, hal ini dapat dilihat pada label infus (10 tetes/menit, 15 tetes/menit dan 20 tetes/menit).
Contoh:
Seorang pasien dewasa diperlukan rehidrasi dengan 1000 ml (2 botol) dalam 1 jam maka tetesan per menit adalah:
TETESAN PERMENIT= 1000 ml /1 X 3 = 333/menit
atau
TETESAN PERMENIT= 1000 ml x 20 / 1 x 60 menit = 333/menit

b. Anak:

TETESAN PERMENIT (MIKRO) = JUMLAH CAIRAN YANG MASUK / LAMANYA INFUS (JAM)
Contoh:
Seorang pasien neonatus diperlukan rehidrasi dengan 250 mikroL dalam 2 jam, maka tetesan per menit adalah:
TETESAN PERMENIT (MIKRO) = 250 / 2 = 125 TETES PERMENIT

2.Transfusi Darah
Merupakan tindakan memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan seperangkat alat transfusi pada pasien yang membutuhkan darah. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.
Persiapan alat dan bahan:
1. standar infus
2. perangkat transfusi
3. NaCl 0,9%
4. Darah sesuai dengan kebutuhan pasien
5. jarum infus/abocath atau sejenisnya sesuai dengan ukuran
6. pengalas
7. tourniquet/ pembendung
8. kapas alkohol 70%
9. plester
10. gunting
11. kasa steril
12. betadine
13. sarung tangan
Prosedur kerja
1. Cuci tangan
2. jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan di lakukan
3. hubungkan cairan NaCl 0,9% dan seperangkat transfusi dengan menusukkannya.
4. isi cairan NaCl 0,9% ke dalam perangkat transfusi dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian. Kemudian buka penutup, hingga selang terisi dan udara keluar.
5. letakkan pengalas.
6. lakukan pembendungan dengan tourniquet.
7. gunakan sarung tangan.
8. Desinfeksi daerah yang akan di tusuk
9. lakukan penusukan dengan arah jarum ke atas
10. cek apakah sudah mengenai vena dengan ciri darah keluar melalui jarum/abocath
11. tarik jarum infus dan hubungkan dengan selang transfusi
12. buka tetesan
13. lakukan desinfeksi dengan betadine dan tutup dengan kasa steril.
14. beri tanggal dan jam pelaksanaan infus pada plester
15. setelah NaCl 0,9% masuk sekitar kurang lebih 15 menit, ganti dengan darah yang sudah di siapkan.
16. darah sebelum di masukkan, terlebih dahulu cek warna darah, identitas pasien, jenis golongan darah dan tanggal kadaluarsa.
17. lakukan observasi tanda-tanda vital selama pemakaian transfusi.
18. catat respon terjadi
19. cuci tangan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar